Lelakiiiii Buaya Darat, Busyet!! Aku
tertipu Lagiii….
Muuulutnya Manis Sekali...Tapi Hati
Bagai Serigala...wow..wow..
Sobat muslim A'er..masih ingat lagu
ini? Hampir separuh tahun 2006, telinga kita ngga' ada bosannya dengerin single
milik Ratu ini. But, saat muncul statement/ancaman Ahmad Dhani untuk
membubarkan duet ini, semua terkejut. Apalagi, ketika itu Dhani sempat membawa-bawa
soal statusnya sebagai suami. Yang notabene punya hak untuk memerintahkan hal
tersebut terhadap istrinya.“Kalau Dhani-Maia ada, berarti Ratu harus sudah
tidak ada. Tapi kalau Ratu masih ada, berarti Dhani-Maia tidak ada,” begitu
kira-kira pernyataan pentolan Dewa 19 ini, seperti dikutip dari sebuah
infotainment. Wow...!!! Kenapa sih kok Dhani sampe berang kayak gitu..???
Ceritanya sih...Maia makin 'gila'
dengan show dan pekerjaannya di dunia hiburan sampe-sampe lupa waktu, pulang
hampir tiap pagi, lupa ama Dhani's junior alias El, Dul, Al terutama Dhani
sendiri merasa tidak ditempatkan sebagai kepala rumah tangga. Trus..truss???
Komentar Maia gimana..?? Menurutnya ini adalah dunianya, kerja sekaligus
hobinya. Kalau rumah tangga ada konflik jangan bawa-bawa RATU. Kalau DEWA bisa
berkibar...RATU pun bisa eksis tanpa Dhani....So, akhirnya mereka diujung
perceraian(www.hotshot.com).
Ya, itulah sekelumit berita tentang
para artis yang ngga' terima bila dunia mereka hanya sibuk melulu untuk
ngurusin anak, suami dan rumah tangga. Kalo kaum adam bisa melakukan segalanya,
kenapa kaum hawa ngga' bisa! Girls and women pada nuntut kesetaraan dengan kaum
Adam. Nurul Arifin, Si Oneng alias Dyah Pitaloka dan sederetan para artis lain
ikut mendukung menyuarakannya. Juga menteri negara Meutia Hatta dan mantan ibu
negara Sinta Nuriyah Wahid. Dimata mereka perjuangan membela hak perempuan
harus terus digalakkan. Wah, kok kayak mau maju perang aja..he..he. Tapi,
pertanyaan besar yang perlu kita bahas, kesetaraan seperti apakah yang mau
diperjuangkan ?
Gender itu apaan sih..??
Kata Gender berasal dari bahasa
Inggris yang berarti jenis kelamin (John M. echols & Hassan Sadhily, 1983:
256). Secara umum, pengertian Gender adalah perbedaan yang tampak antara
laki-laki dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan tingkah laku. Gender
lebih menekankan pada aspek maskulinitas (masculinity) atau feminitas
(femininity) seseorang.
Dalam Women Studies Ensiklopedia
dijelaskan bahwa Gender adalah suatu konsep kultural, berupaya membuat
perbedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan
karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam
masyarakat. Nah, inilah yang nggak bisa diterima oleh kaum feminis. Sehingga
mereka pun membuat pandangan bahwa bila sex tidak bisa diubah maka peran gender
bisa diubah melalui budaya dan teknologi. Misalnya; perempuan dikenal dengan
lemah lembut, cantik, emosional dan keibuan. Sementara laki-laki dianggap kuat,
rasional, jantan dan perkasa. Ciri-ciri dari sifat itu merupakan sifat yang
dapat dipertukarkan, misalnya ada laki-laki yang lemah lembut, ada perempuan
yang kuat, rasional dan perkasa. Teori inilah yang akhirnya menjadikan mereka
semangat untuk mensejajarkan peran mereka dengan kaum pria. Sejak PD II (perang
dunia kedua, red) program kesetaraan gender pun bermunculan bak jamur di musim
hujan.
Di Negara kita ini, konsep gender
bertolak dari perjuangan Kartini yang memperjuangkan hak-hak wanita agar dapet
hak sama dalam pendidikan (A'er garis bawahin sekali lagi lho sobat muslim,
dalam pendidikan!). Perjuangan ini lalu dimodifikasi sampai jadi konsep
perjuangan hak-hak wanita, yang katanya, dijajah pria! (sst…apa bener sich?).
Sobat muslim, kayaknya banyak anak kaum hawa, yang gak ngerti and salah tafsir
pada perjuangan Kartini and yang mereka faham hanya satu, emansipasi. Konsep
gender sekarang udah campur sama konsep perjuangan kaum kapitalis, jadinya
rusak. So, kerap berlebihan hingga timbul banyak masalah yang gak jelas ujung
pangkalnya.
Kaum Hawa sekarang banyak terjun ke segala profesi. Bahkan industry
olah ragapun ada yang namanya sepak bola wanita, angkat besi, ataupun tinju
wanita. Wanita gelantungan di bus ataupun lin jadi kenek or kondektur juga
sudah biasa. Apa ini emansipasi yang diinginkan?Buat yang mikir, gak bakalan
dech terjun ke profesi yang gituan. Apalagi di dunia iklan, tubuh wanita
dieksplor sedemikian rupa untuk menarik selera konsumen. Bayangin aja, iklan
mie ABC gak hot kalau gak berbaju merah ketat. Iklan mobil mewah belum lengkap
tanpa kehadiran gadis berbodi aduhai...
Dengan adegan udah mandi, Lisa Natalia
iklankan pompa air, apa hubungannya gitu loh semua itu! Ini emansipasi atau
pelecehan terhadap wanita? Ih…ngeri dech!
Konsep feminism gender ini telah
memunculkan banya persoalan, diantaranya banyak isteri yang durhaka pada suami,
perselingkuhan kalangan orang tua dan perceraian, yang pelacuran yang di picu
dengan pornografi dan pornoaksi baik di dunia nyata maupun maya, maraknya
HIV-AIDS bahkan di Barat telah terjadi lost of generation (generasi yang
hilang) sebab para wanita tidak mau menikah alih-alih hamil, karena menurut
mereka hal itu dianggap bentuk kekerasan pada wanita dan pelecehan seksual.
Bahkan priapun protes jika dituduh sebagai biang kerok pelecehan seksual dan
akhirnya jadi perdebatan tanpa ujung.
Sobat muslim, kalo dipikir-pikir,
sebenarnya RA Kartini hanya mendidik kaum wanita agar bisa memperoleh
pendidikan dan wawasan yang luas sama dengan pria dan beraktivitas tanpa
melupakan kodrat mereka sebagai wanita dan seorang ibu. Semangat beliau
didasarkan setelah beliau belajar Al Quran dan menemukan ayat yang berbunyi
“Minadz Dzulumaati Ilan Nur” atau dari kegelapan menuju cahaya. Nah, dari sini
sobat muslim bisa berpikir kan pemikiran kesetaraan gender darimana??
Yup…Pemikiran equalitas gender adalah dari Kapitalis, not Islam.
Islam Menjawab...
Islam sebagai sebuah agama sekaligus
pandangan hidup/mabda' diturunkan oleh Allah Swt agar menjadi problem solving
kehidupan. Sebagai sebuah aturan yang sempurna dan paripurna, Islam mengerti
betul bagaimana posisi antara pria dan wanita. Hak dan kewajiban pria dan
wanita adalah sama dimuka syariat sebagaimana firman Allah Swt, “Siapa saja
yang beramal shalih, baik laki-laki ataupun perempuan, sementara ia seorang
mukmin, sesungguhnya Kami akan memberikan kepada mereka kehidupan yang baik,
dan Kami akan memberikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik
daripada amal yang telah mereka kerjakan” (QS. An Nahl: 97). Eiitt..perlu A'er
tegasin, ini bukan legitimasi atas kesetaraan gender lho... Maksudnya hukum
yang diturunkan oleh Allah Swt disyariatkan kepada manusia tanpa membedakan
apakah dia wanita atawa pria. Baik urusan habluminallah, hablumminannnas dan
hablum binafsihi, misalnya berdakwah, sholat, puasa, zakat, infaq, berpendidikan,
de el el.
But, tunggu dulu!! Allah pun Maha
Mengetahui bahwa sesungguhnya pria dan wanita secara sex dan gender itu
berbeda. Kemaskulinan pria nggak akan pernah bisa disamakan dengan feminitas
wanita. Allah berfirman, “Janganlah kalian berangan-angan tentang apa yang
Allah tetapkan kepada kalian atas yang lain. Bagi kaum pria ada bagian dari apa
yang mereka usahakan dan bagi kaum wanita pun ada bagian dari apa yang mereka
usahakan” (QS. An Nisa': 32). Contohnya nih... kaum pria nggak boleh ngiri bila
kaum wanita nggak bisa sholat gara-gara datang bulan. Kaum pria pun nggak boleh
ngiri bila para wanita meminta haknya seperti nafkah karena ini sudah menjadi
kewajiban suami untuk menafkahinya.
“Yang membiarkan para gadisnya bekerja
bersama laki-laki di kilang-kilang minyak, yang tidak saja menyalahi kodrat,
tetapi bisa menghancurkan kehormatannya.”
Yups, demikian pengakuan jujur seorang
penulis bule.
Bagaimana dengan kita? Padahal, kita
udah punya panutan, yakni Nabi Muhammad SAW, yang senantiasa memberikan
bimbingan dalam banyak hadistnya. Banyak pula wanita teladan di masa kejayaan
Islam yang patut diacungi jempol. Kenapa tidak meneladani mereka?
Suatu ketika, saat siding, Asma
melontarkan pertanyaan yang membebani kaum wanita,”Ya Rasulullah, aku mewakili
kaum wanita untuk menanyakan kepadamu tentang beberapa hal. Bukankah engkau
diutus oleh Allah untuk rahmat bagi manusia laki-laki dan wanita? Namun dalam
beberapa masalah ternyata kami merasa dibedakan dari kaum laki-laki. Kami
sama-sama beriman dan bertaqwa, namun kami juga merasa iri dengan perbuatan
kaum laki-laki yang seolah menempatkan mereka pada posisi yang baik untuk
mendapatkan pahala yang besar. Mereka boleh berjihad, sementara kami hanya
mengurus anak-anak dan menjahit pakaian mereka. Mereka diberi kesempatan untuk
meraih pahala sholat jumat, sementara kaum wanita tidak boleh. Bagaimana ini ya
Rasulullah?”
Rasulullah tersenyum dan berkata
kepada Asma', “Wahai Asma' kau pahami dan sampaikan nanti pada kaummu,
kebaktianmu pada suami dan usaha mencari kerelaannya telah meliputi dan
menyamai semua yang dilakukan oleh suami kalian (kaum pria),” jawab Rasulullah
singkat, namun padat dan bermakna tinggi.
Dalam kehidupan Islam, posisi wanita
begitu terhormat, aurat mereka tertutup rapat, sehingga menjadi mulia. Hal ini
sesuai dengan firman-Nya: “Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu,
anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin:'Hendaklah mereka
mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka'. Yang demikian itu supaya mereka
lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al Ahzab: 59). Bahkan dulu di masa
Rasulullah, bila ada wanita yang keluar rumah tidak memakai jilbab maka orang
akan tahu bahwa dia wanita budak atau kafir. Kemuliaan wanita juga diwujudkan
syariat Islam dengan sabda Rasulullah SAW : “Surga itu di bawah telapak kaki
ibu” (HR. Ahmad).
Sobat muslim, Islam juga memuliakan
wanita. Untuk itu, kaum wanita ditempatkan pada posisi yang aman, terhormat dan
terjaga kesuciannya. Suatu ketika seorang muslimah di kota Amuria, terletak
antara wilayah Irak dan Syam, berteriak minta tolong karena kehormatannya
dinodai oleh seorang pembesar Romawi. Teriakan ini ternyata terdengar oleh
Khalifah Mu'tashim, pemimpin umat Islam saat itu. Kontan saja ia mengerahkan
tentaranya untuk membalas pelecehan itu. Bukan saja sang pejabat, tapi kerajaan
Romawi langsung digempur. Untuk membayar penghinaan tersebut, 30.000 tentara
musuh tewas dan 30.000 lainnya menjadi tawanan.
Sayangnya, kondisi seperti itu belum
bisa kita saksikan sekarang. Dan gak bakalan kita saksikan selama system
kehidupannya bukan Islam. Dalam system kapitalisme seperti sekarang ini, rasa
aman, kehormatan, dan kesucian diri amat mahal. Gak bisa kita beli kalau gak
pake duit. Untuk itu, berkacalah pada Islam, khususnya bagi Kartini-Kartini
Millenium ini. Dengan taat dan patuh kepada ajaran Islam, insya Allah selamat
dunia dan akhirat. Gimana mulainya? Mari belajar tentang Islam. Islam sebagai
sebuah ideologi.
~ Edisi 4 / April 2008 ~