TOP NEWS

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. " (QS. An Nahl : 125)

Showing posts with label Oase Iman. Show all posts

February 12, 2013

KEMANA KAN KAU LABUHKAN HATIMU?

Tuh kan… giliran ngomongin melabuhkan hati, langsung melek semua... heheh...
Sobat A-eR, berbicara tentang remaja emang always jadi hal yang menarik untuk dibahas. Sobat A-eR sendiri juga bisa ngrasain betapa pada masa-masa ini ada banyak perubahan yang sedang terjadi pada kalian. Nah, Alangkah sayangnya kalau usia muda kita yang penuh vitalitas, kegembiraan, keoptimalan fisik, kecerdasan akal dan juga ketinggian semangat tersebut hilang begitu saja gara-gara salah melangkah dalam menjalani masa remaja. Salah satu topik remaja yang saat ini lagi cetar membahana badai terpampang jelas seluruh nusantara adalah persoalan melabuhkan hati. <3 Hmmm… kemana antum selama ini melabuhkan hatinya? Apakah sudah nemuin pelabuhan hati yang tepat? Nah, bagi yang udah ato yang belum, yuk kita gali ilmunya dari Islam, kemana tempat labuhan hati yang terbaik… cie…

Sobat, A-eR mau ngulas s’dikit nih. Sobat tahu kan manusia dibekali potensi hidup oleh Allah yang salah satunya adalah naluri (gharizah). Naluri sendiri terbagi menjadi 3 yaitu gharizah nau’ (kasih sayang), gharizah baqa’ (eksistensi), gharizah tadayyun (naluri beragama). Naluri sangat dekat dengan yang namax hati (kalbu) Jadi gak salah klo tabiatnya naluri itu klo gak di penuhi efeknya  gelisah ato sebut aja galau. Contohnya nih naluri nau’ yg suka ngglibet di kalangan ababil, salah satu perwujudannya adalah kecintaan pada lawan jenis. Yang kerap ditemui biasanya di kalangan pemuda-pemudi yang lagi kasmaran. O_o  Saat ada cowok yang nembak cewek sambil bilang ‘simpan aku dihatimu ye? ’ Wuih, si cewek yang ketembak tadi n merasa selama ini diperhatiin n melihat berbagai kriteria menarik dari si cowok langsung klepek-klepek. Seolah si cowok tadi adalah tempat yang pas untuk melabuhkan hatinya. Then, atas nama couple, berlanjutlah mereka pada hubungan pacaran. Kalo dah gini trs berlanjut yang aneh2, Naudzubillah...

Padahal tau sendiri kalo di dalam pacaran itu banyak aktivitas yang mendekati zina. Padalah dalam Al Qur’an dah dijelasin untuk tidak mendekati zina, apalagi melakukannya. Namun lebih mirisnya ada yg mengatakan “pacaran islami” kok. Katax sih gak ada pegang2 tangan, klo keluar rame2 gk khalwat, cuma telpon2nan, chatting, SMS ngingetin tahajud, de el el. Lah, itu mah sama aja boong. Iya sih emang gk berduaan. Tapi kan hati n dunia serasa milik berdua (yg lain ngontrak ma kost kaleee… ckckc). Waduh.... itu mah namanya mencoba berlindung di balik fitrahnya hati u/ mencari pembenaran diri, padahal semua itu hanya mainan nafsu u/ memburu cinta yg semu, mereka gk sadar klo tlah tertipu. Perlu diinget, entah itu berlabel islami ato gk ttp aja nggak dibenerin aktivitas pacaran dalam Islam. Klo g2 carax bisa2 nti ada “mencuri islami”, “PSK islami” Astaghfirullah...  Trus gimana dong melabuhkan hati yang tepat biar gak salah, dijamin aman & menentramkan, bahkan bernilai ibadah!

Sobat Aer, jika kita melabuhkan hati pada seseorang or sesuatu, akan banyak waktu, pikiran atau hal lain yang tercurah pada orang/benda tersebut. Kalo udah gini, jadi penting tuk dipikirkan lagi kemana semua itu perginya. Kita hidup di dunia hanya sementara lho. Sementara kita sibuk memikirkan apa yang datang silih berganti dalam hidup, suatu saat kita akan bertemu dengan ajal kita dan kembali kepada Allah yang telah menciptakan. Untuk itu, saat hidup di dunia, karena kita adalah hambanya Allah n kita mengaku sebagai muslim’s generation, kita harus mau dong ikut aturan dalam Islam yang diberikan Allah. Termasuk urusan melabuhkan hati!

Semestinya nih kita menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai tempat labuhan hati kita. Why? Karena Allah adalah sebaik-baik penjaga hati. Yakin deh, nggak akan bikin sakit hati, gelisah atau dikit dikit galau kalau kita melabuhkan n menitipkan hati kita pada Allah. Allah pun berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” ( QS. Ar Ra'd : 28 ) Buktikan sendiri, semakin kita dekat ama Allah dan menjadikan Allah sbg sandaran hidup dan labuhan dari hati kita, maka yang akan kita dapatkan adalah ketenangan dalam hidup serta kebahagiaan yang kan abadi.  Insya’Allah

Lalu, gimana kita mulai menjalani hidup ini dengan melabuhkan hati kita ama Allah? Yakni  menjalani kehidupan ini dengan bersandar pada aturan-aturan-Nya, termasuk dalam urusan hati. Allah swt berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isra’: 36). Selain itu, untuk menjadikan Allah sebagai labuhan hati kita, kita harus menjadikan kecintaan kita yang tertinggi adalah pada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana dalam firman Allah QS. At Taubah ayat 24.

Tuh dah clear kan sobat. Jika sobat udah tahu yuk kita potensikan naluri nau/ potensi cinta yang dikaruniakan Allah dengan berfastabiqul khoirot dalam melakukan amal-amal ketaatan kepada Allah seperti menuntut ilmu, menyibukkann diri dengan hal-hal yg positif yang bermuara untuk kemajuan peradaban Islam serta endingx untuk mencari ridha Allah.  Wallahu’alam bi showab. 


~Aer Edisi Februari 2013~
8:35 PM Posted by Unknown 0

January 27, 2013

HAPPILY EVER AFTER… (Hidup Bahagia dengan Mendapat Ridha Allah)

Kebahagiaan n kebahagian, semuanya pada ingin tuh tuk hidup bahagia baik di dunia maupun di akhirat, betul  ‘gak? kebahagiaan tu ada yang bersifat sementara & ada yang bersifat kekal, pertanyannya sobat Aer mau kebahagiaan yang seperti apa nih?

Ingat sobat, hal-hal keduniawian yang selama ini kita pandang sebagai sesuatu yang mampu membahagiakan, kebahagiaannya bersifat sementara. Happy ever after, kebahagiaan yang abadi bisa dirasakan kelak ketika di akhirat, di surganya Allah. Nah,  mau tau nggak tips untuk bisa hidup bahagia di dunia akhitat?  Yang jelas tuk mendapatkan kebahagiaan baik di dunia dan akhirat kelak kita harus mengikuti petunjuk seperti yang ada pada Al Qur’an dan As sunah “Maka jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan sengsara. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thaha: 123-124)

Kita tidak akan sesat dan sengsara ketika benar2 ngikutin petunjuk dari Allah dan rasul-Nya, seperti halnya sobat aer ketika ada di perjalanan mau menuju ke suatu tempat dengan melihat peta maka kita akan sampai pada tempat yang kita inginkan.,begitulah kehidupan di dunia ni sobat, jika kita selalu melihat petunjuk dari Allah dan rasul-Nya maka kita tidak akan sesat dan sengsara.

Kebahagiaan yang sifatnya materi atau keduniaan seperti hartanya melimpah, keturunan konglomerat, jabatannya tinggi, pekerjaannya enak, kendaraannya  nyaman, rumahnya mewah, cantik, tampan, wow kok sepertinya perfect banget ya? Semuanya hanyalah bersifat sementara. Nanti kalo dah meninggal gak akan di bawa. Yang jadi pertanyaan, buat apa itu semua jika dia gak hidup sesuai Al Qur’an dan sunah. Dan belum tentu juga jika orang yang di dunia ni kelihatan sengsara dan sangat sengsara maka dia dikatakan hidupnya akan sengsara terus, bahkan dia bisa hidup lebih bahagia kelak di akhirat jika dia mau mencari keridha’an Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala yang dilarang-Nya. Bagaimana bisa? Ini karena dalam Islam kebahagiaan itu dilihat dari bagaimana seseorang mendapatkan keridha’an Allah dari setiap aktivitas yang dijalani, bukan kebahagiaan yang diukur dar materi atau kenikmatan jasmani.

Rasulullah bersabda “Pada hari kiamat akan didatangkan orang yang paling banyak kenikmatan di dunia di antara penghuni neraka. Lalu ia dicelupkan ke dalam neraka satu celupan, lalu ditanya: “Apakah engkau pernah melihat kebaikan dan merasakan kenikmatan?” Iapun menjawab: “Demi Allah tidak, wahai Rabbku.”

Dan akan didatangkan orang yang paling sengsara di dunia di antara penduduk surga. lalu ia dicelupkan di surga satu celupan, lalu ditanya: “Apakah engkau pernah melihat kesengsaraan dan merasakan kesusahan?” Iapun menjawab: “Demi Allah tidak wahai Rabbku, aku tidak pernah mengalami kesengsaraan dan tidak pernah melihat kesusahan sama sekali.”(HR. Muslim)

Disini bisa kita bisa belajar bahwa orang yang dulunya banyak mendapatkan kenikmatan di dunia jika dia dah di neraka maka dia sudah gak akan merasakan kenikmatan sekali, jadi kenikmatan yang ada di dunia ni tentunya tidak kekal, sedangkan kalo kita lihat dulunya orang tersebut sangat sengsara tp kl dia selalu mencari keridha’an Allah sehingga dia masuk surga maka dia akan merasakan nikmat yang kekal, dia tidak merasakan kesengsaraan sama sekali. Makanya rugi deh kalo kite2 nih selalu menuruti hawa napsu dan gak mau mengikuti petunjuk dari Allah dan rasul-Nya. So by that, La Tahzan- jangan bersedih hati dan mengeluh tuk selalu mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Yuuk bersama-sama saling mengingatkan dan berlomba-lomba dalam kebaikan untuk mencari keridhaan Allah. Wallahu’alam bishshawab 


AER EDISI JANUARI 2013
11:21 PM Posted by Unknown 0

January 11, 2013

I RUN TO YOU, YA ALLAH…

Mengamati gelagat pemuda-pemudi muslim dewasa ini begitu miris. Ambil contoh mereka yang terjangkit penyakit HIV/AIDS.  Ironisnya nich Guys, salah satu penyumbang bertambahnya kasus tersebut dari kalangan PEMUDA!!. MasyaAllah.. g’ salah, kalau ada yang tanya “Generasi macam apa kita ini?”. Belum lagi kasus tawuran yang jadi ‘langganan’ para remaja, seperti kasus tawuran antara SMA 6 Bulungan dengan SMA 70 Jakarta Selatan yang sempat heboh bulan September lalu. Atau fakta2 lain, seperti free sex di kalangan remaja, sok keren sok beken dengan rokok dan NABZA, buat yang cowok, tampil semlohai dengan aurat ke mana mana, buat yang cewek. Astaghfirullah.. “inikah generasi muslim sejati?”

Sobat muda muslim, inilah kondisi ketika keimanan dalam diri para pemuda ndak dibangun dan senantiasa dikuatkan. Efeknya, ketika berbuat dan menjalani hidup tidak lagi terkontrol oleh aturan benar-salah menurut Islam. Saudaraku, disadari bahwa keberadaan iman dalam diri kita begitu penting. Namun, karena kondisi iman tersebut sangat fluktuatif, bisa naik turun. Maka menjaganya agar tren-nya naik jd hal penting yang butuh diupayakan. Bersyukur ketika imannya naik, sehingga amal perbuatan kita senantiasa terkontrol untuk disesuaikan dengan aturan-aturan Allah. Namun, apa jadinya ketika iman kita dalam kondisi down. Kita berbuat sesuatu seperti tidak ada Allah yang maha melihat. Kita tidak sadar kalau setelah kehidupan di dunia ini ada hari pembalasan, yang di sana siapapun tidak bisa berbohong lagi, tidak bisa melobi atau tawar menawar mau masuk syurga atau neraka. Kesempatan kita sudah tertutup rapat!! Allah Swt. berfirman “Kami telah menjadikan untuk isi neraka jaham, kebanyakan daripada manusia dan jin. Mereka mempunyai hati, namun tidak digunakan untuk berpikir. Mereka mempunyai mata, namun tidak digunakan untuk melihat. Mereka mempunyai telinga, namun tidak digunakan untuk mendengar. Mereka itu seperti seperti hewan, bahkan lebih hina lagi” ( QS. Al-A’raf: 179 ).

Itulah balasan bagi kita yang tidak menyadari hubungan kita dengan Allah. Dia menghinakan siapapun yang tidak menggunakan kesadarannya untuk beriman kepada-Nya, bahkan lebih hina dari binatang (ternak). Lantas, sekarang apa yang bisa kita lakukan? Sebagai seorang pemuda yang mengaku hamba Allah, wajib kita pahami hakikat penciptaan kita di dunia. Allah Swt. berfirman “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah ( beribadah ) kepada-Ku” ( QS. Adz-dzariyaat: 56 ).

So, jelas kan, kalau penciptaan kita di dunia ini adalah tuk beribadah kepada Allah Swt. Makanya mulai sekarang tancapkan dalam benak kita kesdaran hubungan dengan Allah (Idrak shillah billah). Dengan kesadaran ini, kita akan menjadi manusia yang luhur, yang senantiasa menjalankan kehidupan sesuai hakikat penciptaannya, yakni beribadah kepada-Nya. Bukan sebaliknya, ingkar terhadap Allah dan membuat kerusakan di bumi, dengan “kenakalan-kenakalan” yang kita lakukan, apapun istilahnya. Yang jelas itu semua indikasi atau tanda kalau kita jauh dari Allah dan aturan-aturanNya. Keterikatan diri kita dengan Allah tidak akan pernah ada, kecuali apabila kita benar-benar beriman kepada Allah swt. Kalau kita benar-benar beriman maka kitapun akan berusaha mendekati Allah dengan amal2 yang Dia cintai. Bukan sebaliknya, menjauh dari Allah akibat maksiat yg kita perbuat. Sebelum terlambat, segera sadarkan diri untuk kembali pada Allah, kejar ketertinggalan kita dari waktu yg selama ini terbuang sia2 dr mengingati Allah dan menjalankan amal ketaatan kepada-Nya. Ya Allah, I Run to YOU……….

Nah, biar iman kita tetap pada trek yang benar, A’er punya sedikit TIPS nich: Sadari kembali hakikat penciptaan kita di dunia. Untuk apa? Yups beribadah kepada Allah Swt; Kondisikan diri kita selalu paham dengan kewajiban-kewajiban kita. Dengan apa? Rajin menuntut ilmu, tentunya ilmu Islam; Berkumpul dengan teman-teman yang bisa membawa kita pada kebaikan ( beramal shalih ) dan segera tingal mereka yang hanya mengajak pada kesesatan; and Keep istiqomah dalam beramal shalih. Semoga bermanfaat, dan kita dipertmukan Allah di syurgaNya kelak, atas keimanan kita. amiin... Wallahu'alam bishshawab. 

~EDISI 12/DESEMBER 2012~
8:52 PM Posted by Unknown 0

December 7, 2012

Ubah PIKIRANMU, Tentukan JALAN HIDUP-mu!

Adanya perubahan dan pergantian dalam hidup itu suatu kepastian. Bahkan diantara kita kalau ditanya dengan pertanyaan yang kesannya klasik “Apa yang tidak berubah di dunia ini?” Jawabnya adalah perubahan itu sendiri. Ngomong soal perubahan nich sobat, kita saksikan banyak hal di sekitar kita yang berubah termasuk diri kita sendiri.  Kini masa pun telah berganti. Menurut penanggalan hijriah, tahun 1433 H telah tergantikan dengan tahun 1434 H sejak tanggal 1 Muharram 1434 H. Apa yang istimewa dari pergantian tahun tersebut? Ada satu peristiwa besar yang telah terukir dalam sejarah kehidupan manusia. Peristiwa tersebut menjadi titik permulaan berbagai perubahan luar biasa bagi ummat Islam yang pengaruhnya dapat dirasakan hingga saat ini. What is that?  Peristiwa HIJRAH Rasulullah dan para sahabat dari Makkah ke Madinah.
Sobat muda muslim, peristiwa hijrah adalah bukti ketundukan seorang hamba atas perintah Allah. Disana tumbuh true sincerity and sacrifice. Betapa tidak, coba bayangkan saudaraku, jarak Makkah ke Madinah sekitar 480 km (sebagai pembanding, jarak Surabaya –Jember sekitar 200 m) mereka tempuh dengan kuda dan unta atau mayoritas dengan berjalan kaki di atas padang pasir yang gersang, di bawah terik matahari yang menyengat. Perbekalan mereka yang terbatas tentunya tidak mencukupi untuk menahan lapar dan dahaga yang melanda. Belum lagi selama di perjalanan, orang-orang kafir Quraisy tidak membiarkan kaum muslimin hijrah begitu saja, tapi dilakukan pengejaran dan siapapun yang tertangkap tidak safe dari kekejaman mereka. Apa yang ditinggalkan oleh kaum musliminpun dimusnahkan dan keluarganya yang ditinggalkan disiksa.
Dari sini sobat A’er, pernahkah terpikirkan oleh kita, apa yang menjadikan mereka mampu melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah dengan berbagai resiko yang harus mereka tanggung?
       Certainly, banyak hal yang melingkupi amal perbuatan manusia. Salah satunya yang berperan besar  adalah pemikiran. Meski ada amal yang terjadi secara reflek, namun banyak amal lainnya yang dilakukan karena dilandasi pemikiran. Pemikiran tersebut akan membentuk suatu pemahaman yang mendorong terbentuknyya amal. Sebagaimana pada peristiwa hijrah, kaum muslimin sanggup untuk berhijrah karena adanya pemikiran ideologis yang berasal dari pemikiran Islam. Pemikiran ini membentuk keyakinan akan kebenaran dari sisi Allah sehingga lahirlah wonderful power untuk melakukan segala amal yang diridhai Allah, hingga dapat melunturkan pemikiran2 yang sifatnya insaniah atau keduniawian semata. Mereka sadar betul bahwa pilihan hijrah itu lebih baik untuk mereka, untuk menjaga aqidahnya, dan untuk lebih sempurna dalam menjalankan perintah2 Allah. Meski harus berkorban banyak hal, namun apa yang dijanjikan Allah berupa kemuliaan di sisi-Nya lebih menggugah mereka untuk beramal di jalan-Nya.
Sungguh peristiwa hijrah dapat menjadi REFLEKSI dan INSPIRASI untuk PERUBAHAN pada kondisi kita saat ini. Sebagaimana hijrah yang secara bahasa adalah pindah, dan secara maknawi berarti perubahan dari ALL CONDITION yang tidak sesuai dengan Islam menuju kondisi yang sesuai dengan Islam. Maka perubahan terhadap diri kita butuh dilakukan. Perubahan ini perlu diawali dari bagaimana kita berfikir. Dalam hal ini, kita harus memiliki pemikiran yang benar agar amalnya pun benar. Pemikiran yang benar berupa pemikiran ideologis yang bersumber pada kebenaran dari sisi Allah dapat kita peroleh dengan terus mengkaji tsaqofah Islam dan mengaitkannnya dengan setiap tindakan kita atau fakta yang kita hadapi.
Ketika pemikiran yang benar telah terbentuk pada diri kita, insya’Allah kita tidak akan salah langkah dalam mengambil setiap keputusan ataupun pilihan dalam hidup. Sebagai seorang mukmin kita akan berfikir agar bagaimana keridha’an Allah dapat diraih, meski harus ditempuh dengan jalan yang tidak mudah serta pengorbanan yang menuntut kesabaran. Dari sini, kita pun akan sanggup melakukan PERUBAHAN YANG BERARTI dalam hidup kita, perubahan dari maksiat menuju taat kepada Allah. Insya’Allah Nothing is impossible jika Allah yang dijadikan alasan atas setiap perubahan yang dilakukan.“Sesungguhnya amalan itu tergantung dari niat. Dan setiap orang tergantung dari apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang niat hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka niat hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang niat hijrahnya karena dunia yang ingin dia dapatkan atau karena wanita yang dia ingin nikahi maka niat hijrahnya kepada apa yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim). Wallahu’alam bishawab. 

~EDISI 11/ NOVEMBER 2012~




2:14 AM Posted by Unknown 0

December 1, 2012

KETELADANAN SEJATI DARI IBRAHIM AS.

Sobat, marilah dengan ketulusan hati kita memahami kepasrahan Nabiyullah yang dengan siap dan sigap menjalankan perintah Allah. Yupz, dialah seorang Nabi & Rasul yang namanya diabadikan oleh Allah dalam firmannya: “ Kami abadikan untuk Ibrahim itu di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” ( QS. As Shaffat : 108 )
Setelah masa penantian yang lama, diusianya yang tua, Allah telah menganugerahkan seorang putra yang sangat dicintainya. Kemudian ia bermimpi diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih buah hatinya, Ismail as.. Betapa pilihan tersebut sangat sulit baginya, karena ia sangat mencintai putra yang didambakannya. Namun, disisi lain kecintaannya terhadap anaknya tidak melalaikannya dalam melaksanakan perintah Allah. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail melaksanakan perintah Allah dengan penuh keikhlasan dan kesabaran diiringi harapan agar mendapatkan kebaikan dan ridha dari Allah SWT.

Sobat, ada beberapa hal yang perlu kita pahami dari peristiwa tersebut:
  1. Bersegera dalam beramal kebaikan. Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail adalah bentuk dari kesigapan seorang hamba untuk melaksanakan perintah dari Sang Khalik. ( Al Ijabah Al Qawwiyah ). Dengan respon yang begitu cepat dan tanggap, beliau  Sami’na wa atha’na (mendengar dan taat). Ketika mendengar perintah dari Allah, hatinya mau menerima dan berniat melaksanakannya dengan keikhlasan. Coba kita introspeksi diri, terkadang kita masih sering mengulur waktu untuk melaksanakan shalat, atau kewajiban-kewajiban lain yang Allah perintahkan.
  2. Kesungguhan dalam beramal. Kesungguhan dan kesabaran Nabi Ismail dalam menerima perintah Allah membuat dia merasa tenang dan tidak berat hati dalam melaksanakan perintah-Nya. Terkadang dalam diri kita, rasa malas dan enggan melaksanakan perintah Allah karena kita kurang bersungguh-sungguh, kurang bersabar dan cenderung berputus asa saat melaksanakan perintah Allah. Allah berfirman dalam Q.S Az Zumar: 53 “ Katakanlah: Hai hamba-hamba - Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah .”
  3. Pengorbanan seorang hamba equivalen dengan kecintaannya. Semakin dia mencintai sesuatu, maka semakin besar pula pengorbanannya untuk hal yang ia cintai. Ingatlah sobat, rasa iman  kepada Allah akan menumbuhkan rasa cinta kepada-Nya melebihi cinta terhadap segala sesuatu. Dan jikalau kita sudah cinta kepada Allah pasti kita akan rela berkorban untuk melaksanakan perintah Allah, walau terkadang berat bagi kita. Jikalau kita sudah dikaruniai keimanan oleh Allah, maka dalam hati kita akan selalu senang terhadap apa yang dicintai oleh Allah dan juga merasa selalu benci terhadap yang dibenci oleh Allah. “Allah menjadikanmu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci terhadap kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang yang mengikuti jalan yang lurus.”(Q.S Hujuraat: 7)
Semoga kita bisa mengambil ibrah dalam peristiwa mulia ini, dan sudahkah kita memberikan pengorbanan sebagai bentuk cinta kita kepada Allah? Dari keimanan dan amal perbuatan kitalah akan menjadi cerminan, sejauh mana kecintaan kita kepada Allah dan rasul-Nya. Let’s ask ourselves, kalau benar-benar cinta Allah, mana buktinya?!
12:55 AM Posted by Unknown 0

October 25, 2012

SIAPAKAH ORANG_ORANG YANG MULIA?

Mulia. Satu kata yang jika orang dengerin pasti pingin sebuah kemuliaan. Mulia. Simpel tapi punya arti yang begitu dalam. Butuh proses panjang menuju kemuliaan. Contohnya aja, Rasulullah n sahabat2nya. Ada Abu Bakar, Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan, Ali Bin Abu Thalib, Bilal Bin rawahah, Mus'ab Bin Umair, dan masih banyak lagi yang lain. 

Rasulullah n para sabahat bisa mulia melalui perjalanan yang panjang, perenungan akan diri, hakikat hidup di dunia dan yang menciptakan, sampai juga melepaskan diri dari hal2 duniawi, serta lain sebagainya, yang kalau diceritain, pasti akan ada haru dan bangga yang luar biasa bagi siapa saja yang membaca kisahnya. Perjuangan hidup menuju kemuliaan dihadapan Allah sampai ajal menjemput.

Kita yakin, semua orang pingin hidupnya mulia dan bahagia di dunia maupun di akhirat seperti Rasulullah n para sahabat. Ga ada seorang pun yang ingin hidupnya sengsara apalagi hina. Namun, sering kali kita keliru dalam ngolongin siapa yang disebut orang mulia dan orang yang hina. Kebanyakan, orang mengukur kemuliaan hanya dari segi materi, kekayaan pribadi, memiliki rupa tampan atau cantik, ataupun jabatan yang tinggi. Padahal, materi tidak dapat dijadikan tolok ukur seseorang itu mulia atau hina. Trus yang bener yang seperti apa?!?

"…Sungguh, yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa…"
(QS. Al-Hujurat:13)

Jadi, sobat muslim, gambaran orang beriman ini adalah ketaqwaannya pada Allah. Pribadi-pribadi mulia adalah pribadi yang bertaqwa kepada Allah. Ia rela dengan ikhlas menjalankan kewajiban bahkan menambah amalnya dengan sunnah, nafilah. Ia juga ridlo untuk jauhi larangan Allah.

Ketaqwaan seseorang ini hanya Allah yang bisa mengukurnya. Gak ada istilah kaya lebih taqwa dari yang miskin, kulit putih lebih taqwa dari kulit hitam, dan seabrek lainnya. Jika demikian berarti Allah zalim karena telah member kemiskinan, kulit hitam, de el el.

Maha Suci Allah dari prasangka tersebut! Tetap dipahami bahwa Allah tidak memandang golongan mana, warna kulit apa, ataupun kaya atau miskin. Tapi, Allah akan melihat siapa yang terikat dengan aturannya dan benar-benar bertaqwa. Dialah orang yang mulia.

Kita bisa lihat sahabat Rasul. Antara Bilal dan Mushab bin Umair atau Ustman bin Affan, sama-sama dicintai oleh Rasulullah. Rasulullah tidak menganggap Bilal lebih rendah karena seorang budak hitam tapi, ketaqwaan Bilal-lah yang membuatnya sama mulianya dengan sahabat yang lain, yang kaya.

Selain itu, orang yang mulia selalu menyambung tali persaudaraan dalam setiap kondisi, menebarkan salam, memperhatikan urusan kaum Muslimin, memelihara kemaluan, beraktivitas dan berusaha mengamalkan kebajikan. Selain itu juga melakukan amar ma'ruf nahi munkar, bersegera melakukan kebajikan, dan takut mendapatkan siksa akibat ketamakan.

Kitakah orang2 yang mulia itu?

Kita semua bisa jadi orang mulia, asal penuhi syarat orang mulia yakni, orang yang paling mulia di sisi Allah SWT adalah orang yang paling bertakwa. Wallahu'alam bishowab.

~ Edisi 8 / Agustus 2008 ~
2:12 AM Posted by Unknown 0

October 24, 2012

NASRULLAH AMAT DEKAT BAGI ORANG BERIMAN…TRUST IT !!!

“ Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah? “ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah amat dekat “
(QS. Al Baqarah 214)

“Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia…”
(QS. Al-Mu’min 51)

Sobat muslim… orang-orang beriman pada Allah akan sangat yakin terhadap pertolongan Allah adalah dekat, sehingga mereka sabar dalam menghadapi cobaan dan semakin kuat setelah mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan.

Tetapi ketika seseorang tidak memiliki keimanan dalam hatinya. Atau kalaupun ada keimanan tapi kualitasnya rendah, ketika diuji oleh Allah mereka akan semakin lalai dari-Nya, marah dengan cobaan yang Allah berikan, bahkan tidak yakin bahwa pertolongan Allah di depan mata jikalau mereka memohon.

Kita bisa lihat bagaimana yakinnya orang-orang yang beriman pada zaman dulu pada pertolongan Allah. Dikisahkan pada masa Rasul pada saat perang Badr dimana jumlah kaum kafir Quraisy ketika itu antara 900 sampai 1000 orang, 3x jumlah kaum muslimin, yang apabila dilogikakan maka jelas dari segi kuantitas kaum muslimin kalah sebelum berperang.

Kaum muslimin tidak gentar dan terus memohon kemenangan dan pertolongan kepada Allah, memurnikan ibadat kepada-Nya dan seketika itu menghadang serbuan yang secara terus-menerus dilancarkan orang kafir Quraisy.

Rasulullah tiada henti2nya memohon kepada Allah, seraya bersabda : “ Ya Allah, jika pasukan ini hancur pada hari ini, tentu Engkau tidak akan disembah lagi, ya Allah, kecuali jika memang Engkau menghendaki untuk disembah untuk selamanya setelah hari ini.”

Lalu Allah mewahyukan kepada para malaikat : “ Sesunguhnya Aku bersama kalian, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir.” (QS. Al Anfal 12). Dan dalam ayat lain :“ Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kalian dengan seribu malaikat yang datang berturut –turut ” (Q.S Al Anfal 9).

Subhanallah,akhirnya kemenangan ini berhasil diperoleh. Dalam kisah lain saat pembantaian besar-besaran masa perang salib yang berlangsung 200 tahun, kegigihan kaum muslimin yang sabar dan terus berjuang akhirnya menang dengan pertolongan Allah. Suatu yang sulit diprediksi sementara jumlah pasukan salib banyak dengan peralatan yang canggih. Begitupun Allah juga mendatangkan nusroh ini saat penaklukan konstatinopel. Sebegitu dahsyatnya pertolongan Allah bagi hambaNya yang beriman. Namun, sering dalam kehidupan, kita menafikkan hal itu atau terkadang kita masih ragu akan pertolongan Allah. Kondisi umat Islam saat ini berada dalam penindasan dan tekanan orang-orang kafir, dibantai, dirampas kekayaan alamnya, para muslimahnya diperkosa , dihalangi beribadah, dihinakan dengan ditempatkan sebagai negara miskin yang tertinggal sains. Tak hentinya tiap hari di negeri Palestina, Afghanistan, Irak, Al Jazair terdengar rintih tangis kelaparan, kehilangan keluarga , dan bertanya dimana ibuku… ayahku…. atau orang tua yang menangis ketika anaknya yang masih kecil ditembak tanpa belas kasihan, bilakah pertolongan ini datang?

Fase ini akan segera berlalu dan Allah telah menjanjikan pertolongan-Nya dengan kemenangan Islam dengan orang-orang kafir. Kemenangan ini sedang diupayakan oleh orang-orang yang terus yakin dan berjuang demi tegaknya Islam.

"Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman." (Q.S Ash Shaff 13)

~ Edisi 5 / Mei 2008 ~
10:55 PM Posted by Unknown 0

Badai Pasti Berlalu


Tatkala Bani Makhzum mengetahui keislaman keluarga Yasir, segeralah mereka menyiksa keluarga ini. Diantara mereka adalah Sumayyah (istri Yasir dan Ibnu Amar bin Yasir). Orang-orang kafir itu memaksa Sumayyah keluar dari Islam, tetapi Sumayyah tetap teguh. Beliau dibawa ke padang pasir saat pasir sangat panas dan menyengat. Diletakkan beliau diatasnya dan tubuhnya ditaburi pasir. Di dadanya diletakkan sebongkah batu berat, tetapi tak terdengar rintihan atau keluhan apapun selain kata, “Ahad… Ahad!” Beliau, Sumayyah, mengulang-ngulang kata tersebut sebagaimana Amar dan Yasir.
 
Ketika Rasulullah menyaksikan keluarga muslim tersebut di tengah siksa nan kejam, beliau menengadah ke langit dan berseru, “Bersabarlah wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah jannah.”
 
Mendengar seruan Rasulullah, Sumayyahpun berkata berulang-ulang, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah dan aku bersaksi bahwa janjimu benar.”
 
Melihat keteguhan dan kesabaran Sumayyah, akhirnya orang kafir itu putus asa dan dengan marah Abu Jahal menusukkan sungkurnya hingga terbanglah nyawa Sumayyah yang agung, syahidah pertama Islam.
 
Inilah contoh kesabaran seorang mukmin ketika diuji oleh Allah. Keimananlah yang mampu membuat orang tangguh dan tidak mudah menyerah. Tentang hal ini Rasulullah bersabda,
“Mengagumkan seorang mukmin itu, karena sesungguhnya semua urusannya menjadi baik baginya, dan hal itu tidak terdapat pada seorangpun kecuali seorang mukmin. Jika ia mendapat suatu keberuntungan lalu bersyukur, niscaya itu baik baginya. Jika ia ditimpa suatu kesulitan lalu bersabar, itupun baik baginya.” (HR Muslim dan Sahabat Suhaib Ar Rumy)
 
Sabar adalah suatu sikap menerima. Sabar akan dapat menstabilkan kondisi hati yang sedang labil karena kesulitan. Dengan jiwa dan hati yang stabil akan membuka jalan lebih lebar menuju solusi. Agar sanggup bersabar, seorang muslim harus beriman pada qodar sehingga ia tahu bahwa apa yang menimpanya tidak akan luput darinya dan apa yang akan luput darinya, tentu tidak akan menimpanya. Sekalipun umat berkumpul mencelakakannya, mereka tidak akan sanggup. Dengan keyakinan ini akan membuat kita qana'ah dan ridlo dengan ketetapan Allah. Terhadap ujian yang diberikan Allah, kita tidak akan berkeluh kesah.
 
Kemudian kita adukan permasalahan kita dalam sujud panjang kita. Tangan kita tengadahkan sambil berurai air mata penuh harap akan pertolongan-Nya, sebagaimana Umar bin Khottob disaat bangun malam membaca, ” Sesungguhnya aku adukan keluh kesah dan kesedihanku kepada Allah.” (QS. Yusuf: 86). Dia sadar betul bahwa dirinya adalah makhluk yang lemah.
 
Firman Allah dalam QS Ar Rum 60,
“Maka bersabarlah engkau (Muhammad), sungguh, janji Allah itu adalah benar dan sekali-kali jangan sampai orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan engkau.”
 
Jadi, saudaraku, sobat muslim A'er, seandainya kesulitan apapun saat ini datang dan menghimpit kita, kita harus tetap sabar dan terus mencari jalan keluar serta memohon pada Al Qolam Allah SWT. Berhati-hatilah dari keputusasaan yang akan meenyeret kita mengambil jalan-jalan praktis dan pintas hingga menghancurkan keimanan. Yakinlah, sesungguhnya dibalik kesulitan yang kita hadapi pasti ada kemudahan. Di antara sekian banyak masalah, pasti ada jalan keluar. Maka seringlah memohon pertolongan Allah SWT.

~ Edisi 4 / April 2008 ~

9:11 PM Posted by Unknown 0
Powered by Blogger.